Jaga Marwah Budaya, GKR Bendara Tolak Wisata Yogyakarta yang Hanya “Meniru” Bali

YOGYAKARTA, Mediajava News – Putri bungsu Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, mengeluarkan pernyataan tegas terkait arah masa depan pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Beliau secara terbuka menolak konsep pembangunan destinasi wisata yang sekadar mengekor atau meniru model pariwisata di Bali, demi menjaga keaslian jati diri Yogyakarta.
Menurut GKR Bendara, Yogyakarta memiliki akar budaya dan filosofi yang sangat dalam yang tidak boleh dikorbankan demi mengejar tren industri pariwisata massa semata.
Yogyakarta Bukan Bali: Mengapa Identitas Lokal Itu Penting?
Pernyataan GKR Bendara ini merupakan respons terhadap maraknya pembangunan resor dan destinasi wisata baru di Jogja yang dinilai mulai kehilangan karakter lokalnya. Beliau menekankan bahwa keunikan Yogyakarta justru terletak pada Warisan Budaya (Cultural Heritage) dan nilai-nilai luhur yang tidak dimiliki daerah lain.
“Yogyakarta bukan Bali. Kita punya karakter sendiri, punya unggah-ungguh, dan filosofi yang harus tetap dijaga. Pembangunan wisata tidak boleh hanya soal fisik, tapi juga tentang bagaimana menjaga jiwa dari daerah tersebut,” tegas GKR Bendara.
3 Poin Utama Keberatan Putri Sultan terhadap “Baliisasi” Jogja
GKR Bendara mengidentifikasi beberapa ancaman nyata jika Yogyakarta terus memaksakan gaya pembangunan yang tidak relevan dengan identitas Jawa:
- Identitas Visual yang Memudar: Munculnya arsitektur modern-tropis yang generik tanpa sentuhan estetik Jawa dapat menghilangkan daya tarik Jogja sebagai kota budaya.
- Dampak Sosial Masyarakat: Komersialisasi yang berlebihan dikhawatirkan menggeser nilai-nilai sosial masyarakat lokal yang selama ini menjadi kekuatan utama keramah-tamahan Jogja.
- Krisis Keberlanjutan Lingkungan: Penekanan khusus diberikan pada pembangunan di area sensitif, seperti kawasan Karst Gunungkidul, yang jika salah kelola akan merusak ekosistem air bawah tanah yang vital.
Menuju Quality Tourism: Fokus pada Narasi dan Pelestarian
Alih-alih bersaing secara kuantitas, GKR Bendara mendorong Yogyakarta untuk bertransformasi menuju Quality Tourism (Wisata Berkualitas). Strategi ini sangat relevan mengingat status Yogyakarta sebagai pemegang predikat Warisan Dunia UNESCO (Sumbu Filosofi).
Konsep Wisata Berkualitas menitikberatkan pada:
- Narasi Budaya dan Sejarah: Mengajak wisatawan untuk memahami makna di balik setiap tradisi.
- Interaksi Mendalam: Menciptakan pengalaman wisata yang melibatkan masyarakat lokal secara aktif dan bermartabat.
- Pelestarian Lingkungan: Menjadikan pariwisata sebagai alat konservasi, bukan eksploitasi lahan.
Investasi yang Berbasis Kearifan Lokal
Meskipun menolak “Baliisasi”, pihak Keraton dan Pemerintah DIY tidak menutup pintu bagi investor. Namun, GKR Bendara memberikan syarat mutlak: investor wajib mematuhi aturan tata ruang dan mampu mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam model bisnis mereka. Investasi harus berjalan selaras dengan upaya mempertahankan marwah budaya Yogyakarta.
